martes, 9 de septiembre de 2014

Kita Bisa "Podemos"

Dalam waktu satu minggu, saya bertemu dengan dua warga negara Spanyol yang sedang berlibur ke Indonesia, pembicaraan kami pun sempat singgah pada "fenomena Podemos", sebuah gerakan politik yang bagi mereka bisa menjadi solusi masalah politik dan ekonomi Spanyol, khususnya karena Pemilihan Umum akan dilangsungkan tahun 2015.

Walaupun tidak optimis bahwa partai baru ini dapat langsung memenangi Pemilu 2015, mereka sangat terkesan dengan gagasan yang diuraikan gerakan ini, karena bertujuan untuk mengubah secara fundamental tatanan pemerintahan dan Undang-Undang di Spanyol. Begini ceritanya:

Pablo Iglesias Turrión, Pemimpin Partai Politik Podemos Spanyol
Krisis yang berlangsung di Spanyol membuat para ahli politik negeri itu berkumpul dalam gerakan massa "Mover ficha: convertir la indignación en cambio político" (Bergerak ke depan: mengubah kemarahan menjadi politik) yang berlangsung 12-13 Januari 2014, yang disertai dengan penerbitan koran digital "Público".

Tergabung dalam daftar kontributor publikasi itu adalah sekitar tiga puluh orang dari kaum cendikiawan Spanyol, kaum budayawan, jurnalis, aktifis sosial, termasuk dosen Ilmu Politik dari beberapa universitas terkemuka di Spanyol.

Dalam gerakan ini muncul gagasan pencalonan diri untuk parlemen Uni-Eropa, dengan tujuan menentang kebijakan ekonomi EU. Dosen politik Universitas Compultense Madrid (UCM), Pablo Iglesias Turrión, terpilih untuk mengepalai gerakan baru yang dinamai "Podemos" (kita bisa) ini, yang kemudian berhasil memenangkan lima dari 54 kursi di parlemen Uni-Eropa dari Spanyol. Posisi pertama masih dimiliki Partido Popular (PP) dengan 16 kursi, yang juga adalah partai politik yang berkuasa di Spanyol sekarang ini.

Tepatnya pada 16 Januari 2014 Podemos berdiri, dengan ideologi politik mereka yaitu: egalitarianisme, populis, demokrasi partisipatif, dan republikan. Yang menarik dari pemain baru di kancah politik Spanyol adalah, mereka tidak berasal dari latar belakang politikus. Pendanaan pun didapatkan dari masyarakat atau dikenal dengan istilah crowdfunding tanpa penggunaan pinjaman bank.

Kiprah gerakan ini cukup memancing perhatian di Spanyol, khususnya setelah pemilihan parlemen Uni-Eropa. Muncul bermacam reaksi dari partai-partai lainnya seperti dugaan keterlibatan Pablo Iglesias pada gerakan terorisme separatis Pais Vasco ETA, paham politik sayap kiri Chavisme (oleh Hugo Chavez, Venezuela) dan dan Catroisme (oleh Fidel Castro, Kuba).

domingo, 9 de marzo de 2014

Sekilas Segovia


Bangunan peninggalan roma ini menyambut anda di kota Segovia.

Akuaduk, digunakan sebagai saluran air dari gunung menuju istana, memang merupakan ikon kota perbukitan ini. Kokoh berdiri layaknya gerbang kota, langsung terlihat ketika tiba layaknya pemeran utama.

Segovia terletak di sebelah utara Madrid, berjarak 30menit dengan kereta dari ibukota. Stasiun Segovia terletak di luar pusat kota sehingga anda harus memilih mode transportasi untuk membawa anda ke sana, yaitu bus seharga 1,20 euro, atau taxi seharga 8 euro yang bisa anda bagi dengan wisatawan lainnya.



Memasuki kota Segovia, akuaduk peninggalan Roma menyambut anda bak gerbang. Dari sanalah perjalanan dimulai, anda dapat menemukan bangunan-bangunan unik dan motif-motif khas kota ini, hingga berakhir pada istana angkatan bersenjata kanon (alcázar).



Corak bangunan yg cantik dapat anda temui di dalamnya sekaligus mempelajari tentang persenjataan di Spanyol. Kota Segovia yang terletak di atas bukit membuat pemandangan lembah di luar alcázar menjadi sebuah keindahan tambahan bangunan ini.



Untuk urusan kuliner, cochinillo, atau suckling pig, atau babi muda panggang dengan kulit crispy dan sari yang dihasilkan dagingnya menjadi menu wajib untuk dicoba bagi anda yang non Muslim. Kota ini memang adalah rumah bagi cochinillo, dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan di Madrid yang bisa mencapai 24euro. Di Segovia, anda cukup mempersiapkan sekitar 18euro untuk mendapatkan satu porsi besarnya.

martes, 1 de octubre de 2013

Ibiza Kecil di Pesisir Bali

"Ibiza itu seperti Bali, dengan gaya yang lebih bohemian," ungkap Thomas Mack yang berlatarbelakang keluarga dari pulau mediteranian Spanyol ini. Oleh karena itu, empat bulan lalu Thomas bersama rekan-rekannya, termasuk seorang chef asal pulau yang sama, membuka bisnis restoran Spanyol bergaya Ibiza berjarak hanya sekitar 300 meter dari Pantai Batu Belig, Canggu.

"La Finca" nama restoran itu. Terletak setelah jembatan yang melintasi sungai, tepatnya Jalan Subak Sari 77. Dari seberang sungai terlihat seperti sebuah pondokan tropis asri dengan pintu gerbang bergaya mediterania.



Tidak hanya sedap dipandang dekorasinya, termasuk taman yang dijadikan area lounge, sedap pula ketika sajian La Finca singgah di indera pengecap.

Rasa masakan yang dihidangkan melebihi ekspektasi saya, bahkan sepertinya lebih lezat ketimbang di Spanyol sendiri. Walaupun saya tidak mencoba jamón (ham) iberico/bellota yang menjadi makanan spanyol favorit sepanjang masa.





Seperti di Spanyol, kami disajikan potongan roti sebelum masuk ke hidangan utama. Saya pikir roti yang mereka hidangkan tidak kalah dengan roti di Spanyol, dan roti semacam ini jarang ditemukan sekalipun di Jakarta. Kalau di Spanyol biasanya roti ditemani minyak zaitun saja, di La Finca tersedia saus ali-oli (mayones dan bawang putih) dan tomato kering dalam minyak zaitun sebagai "cocolan" roti.

Malam itu saya dan seorang teman yang tinggal di Bali mencoba salad daun roket dengan bit dan saus mustard madu, serta pechuga rellena (dada ayam berisi daging dan daun herbal) dan sayuran bakar. Dilanjutkan dengan platter makanan penutup seperti lemon cheese cake, churros, dan beberapa olahan cokelat. Sebagai penggemar cokelat dark, saya senang karena dessert cokelat mereka tidak terlalu manis.



Selain makanan tersebut, mereka menyediakan pula berbagai jenis tapas (pintxos, croquetas, tortilla patata), fideos (mie), carne (olahan daging) termasuk hot stone steak yang bisa anda masak sendiri.

Koleksi minumannya pun cukup beragam. Dari beberapa jenis wine, cocktail, shake yoghurt, jus, teh dan kopi, dan tentunya kawan baik untuk bertapas: bir dan sangría.



Setiap hidangan yang keluar dari dapur La Finca menyebarkan keharuman yang menggugah selera. Yang terlebih penting adalah, tidak saja indera penglihatan, pengecap, dan penciuman kita yang dipuaskan, juga keramahan dan ketanggapan para pramusaji membuat makan malam di La Finca nyaman. Terlihat Thomas pun menyempatkan diri bertegur sapa dari meja ke meja dengan para pengunjung yang kebanyakan bule.

Ia pun sempat mengungkapkan keberadaan La Finca yang sanggup menarik pengunjung kelas atas maupun menengah. Oleh karena itu makanan yang ditawarkan pun memiliki range harga bervariasi, namun dengan kualitas yang tetap tinggi.

Saya pikir hal-hal inilah yang akan membuat La Finca bertahan lama, tidak hanya sekedar satu lagi resto Spanyol di Pulau dewata.

martes, 24 de septiembre de 2013

Sungai Merah Huelva

Selain menjadi pintu masuk sepak bola di Spanyol dengan klub sepak bolanya yang tertua di tanah hispana, Provinsi Huelva yang terletak di pesisir barat daya Spanyol menyimpan keistimewaan lainnya, yaitu Río Tinto atau Sungai Merah.


Warna merah terbentuk dari proses meteorisasi sehingga sungai terkandung banyak mineral, yaitu sulfur. Bertahun-tahun sudah sungai ini diinvestigasi oleh NASA untuk dicari makhluk hidup yang dapat bertahan di sana, karena kondisinya yang menyerupai Mars. Oleh karena itu air dari sungai ini memiliki karakter yang sangat asam dengan pH 1,7 - 2,5. Namun ditemukan juga oksigen pada sungai ini sehingga memungkinkan mikroorgamisme seperti bakteri untuk berfotosintesis.


Río Tinto mengalir sepanjang 100km dari pegunungan Padre Caro, bermuara di laut selatan atau Muara Huelva di mana ia bersatu dengan sungai lainnya, yaitu Sungai Odiel.

Pegunungan di sekitar sungai telah menjadi daerah pertambangan sejak masyarakat asli bangsa Iberia, bangsa Phoenix, Roma, hingga kekuasaan Muslim untuk tembaga, besi, dan magnesium. Sejak abad 19 barulah didirikan pertambangan berskala besar terutama oleh perusahaan Inggris. Sejak tahun 1986 penambangan tembaga dihentikan untuk beralih ke perak, dan tahun 1996 logam mulia.

Selain keunikan alam sungai, didirikan juga Taman Mineral Río Tinto. Di sini pemgunjung dapat menghampiri Museum Mineral, Casa 21 (rumah peninggalan pekerja tambang Inggris dahulu kala), Gua Besi, dan Kereta Api Mineral zaman dulu.

jueves, 20 de junio de 2013

Selebrasi di Sevilla

Pengalaman saya bertualang di Sevilla, kembali dipublikasikan sebuah media cetak Indonesia.
(http://www.thejakartapost.com/news/2013/06/02/a-celebration-seville.html)

Berisikan kisah kemeriahan April Fair 2013 serta tempat-tempat menarik yang layak dikunjungi ketika tiba di kota yang terletak di Komunitas Otonomi Andalusia. Sedikit tentang Feria de Abril atau April Fair pernah saya tulis di blog ini satu tahun lalu, kini saya akan bercerita lewat foto-foto yang saya ambil ketika mampir di sana.

Feria de Abril 2013

Gerbang Feria de Abril 2013, terinspirasi dari Plaza de Espana

Casetas (rumah-rumah tenda) dan wanita berkostum Sevillana selalu memeriahkan acara tahunan ini
Mode transportasi tradisional untuk pergi ke Feria, pria berkuda menjemput wanitanya

Tarian Sevillana ditarikan sepanjang Feria di dalam casetas
Cantiknya Sevilla

Stadion Sevilla FC

Jalur sepeda berfungsi dengan baik

Hotel Alfonso XIII dengan pohon pisang!

Keindahan Plaza de Espana

Mudejar, gaya arsitektur yang banyak ditemui di Sevilla
Sisa tembok romawi yang dirubuhkan tahun 1929

Katedral

Alcazar

Patung Giralda yang dipindahkan dari puncak menara

Las Setas untuk melihat kota dari atas

Taman Alameda untuk bersantai sore

martes, 18 de junio de 2013

Lirik Himne Spanyol Marcha Real

Himne nasional Spanyol Marcha Real sudah lama menjadi lagu kebangsaan tak berlirik. Ada beberapa versi karangan penulis, seniman, maupun musisi, tetapi satu versi yang disebarluaskan untuk para atlet bertanding mewakili negaranya diciptakan oleh Paulino Cubero pada tahun 2008.

Pengisian lirik oleh Komite Olimpik Spanyol ini dimaksudkan agar para atlet bisa ikut bernyanyi daripada hanya bergumam saat lagu diputar. Walaupun demikian, kontra mengenai lirik lagu ini masih berdatangan khususnya dari kalangan politisi, termasuk Kepala Pemerintahan Mariano Rajoy.

http://youtu.be/gMz0chNedOc

Pada partai pertama Spanyol melawan Uruguay Piala Konfederasi 2013, lagu ini kembali dikumandangkan, dan BBC untuk pertama kalinya menyertakan lirik lagu tersebut pada tayangannya. Tak pelak BBCpun juga mendapat kritikan karena lirik ini pun juga tidak jadi diresmikan.


Ini dia contekan dan terjemahannya (sekalian belajar bahasa Spanyol yuk)


¡Viva España!
(Hidup Spanyol!)
Cantemos todos juntos
(Kita bernyanyi semua bersama)
con distinta voz
(dengan suara berbeda)
y un solo corazón
(dan hanya sebuah hati)

¡Viva España!
(Hidup Spanyol!)
desde los verdes valles
(dari lembah-lembah hijau)
al inmenso mar,
(hingga lautan luas)
un himno de hermandad
(sebuah himne persaudaraan)
Ama a la patria
(mencintai tanah air)
pues sabe abrazar,
(dan tahu bagaimana memeluk)
bajo su cielo azul,
(di bawah langit birunya)
pueblos en libertad
(rakyat dalam kemerdekaan)
Gloria a los hijos
(kejayaan untuk para putra)
que a la Historia dan justicia y grandeza
(bahwa kepada sejarah mereka memberi keadilan dan kebesaran)
democracia y paz.
(demokrasi dan kedamaian)